Pages

BLOG INI HANYA MENGUMPULKAN BERITA-BERITA TENTANG PRAKTEK PROSTITUSI DARI BERBAGAI SUMBER MEDIA MASSA. SEMOGA KITA BISA MENGAMBIL PELAJARAN DAN SEMOGA BERMANFAAT KHUSUSNYA YANG SEDANG MELAKUKAN RISET DAN KAJIAN - PESAN : HINDARI SEKS BEBAS DAN SETIALAH PADA PASANGAN ANDA!

Sabtu, 29 Mei 2010

Lokalisasi Pantai Semawang Sanur, Lokalisasi Seks Terbesar di Bali

Sanur, Lokalisasi di Kawasan Pantai Semawang Sanur dan sekitarnya, kini kembali bergairah alias ramai. Selama bulan puasa dan Lebaran, lokalisasi terbesar di Bali ini sepi pengunjung maupun wanita penghibur (PSK).

Dari pantauan Beritabali.com malam ini, lokalisasi di kawasan jalan Danau Tempe, Danau Poso, jalan Sekar Waru Semawang, hingga Blanjong sudah mulai ramai.

Kawasan lokalisasi terbesar di Bali yang pada saat bulan puasa relatif sepi kini mulai ramai.

Di salah satu bungalow XX di jalan Danau Poso misalnya, malam ini tampak ramai di kunjungi para lelaki hidung belang. Beberapa turis pria asal Jepang juga tampak melihat-lihat “aquarium” yang memajang beberapa wanita penghibur atau cewek PSK.

“Mari mas silakan pilih, banyak yang masih baru, seger-seger mas baru datang dari Jawa,” kata seorang karyawan yang bertugas di bungalow XX alias esek-esek ini.

Menurut pria yang mengaku bernama Made ini, setelah Lebaran, kawasan lokalisasi sanur dibanjiri ‘pendatang baru’ atau cewek wajah baru dari Pulau Jawa. Selain dari beberapa kota di Jawa Timur, para wanita penghibur ini juga berasal dari daerah Jawa Barat.

“Aku baru disini mas. Baru nyampai kemarin dari Bandung,” jelas seorang PSK yang mengaku bernama Icha.

Kepada Beritabali.com, Icha mengaku sebelumnya beroperasi di Kota Bandung. Ia memilih Bali sebagai ‘wilayah operasi’ yang baru karena di tempat lama sudah terlalu banyak saingan.

“Kalau di Bali khan bisa dapat pelanggan baru, bisa dapat bule,” jelas Icha yang mengaku asli Klaten Jawa Tengah ini.

Pengakuan serupa juga disampaikan Tari, PSK dari daerah Indramayu Jawa Barat. Tari mengaku baru saja tiba di Bali, saat arus balik Lebaran.

Tari yang sebelumnya ‘beroperasi’ di wilayah Kota Bandung dan sekitarnya, kini membuka praktik jasa pelayanan seks di daerah Sanur.

“Kalau di Bali, peluang dapat pelanggan baru lebih banyak. Kalau di Bandung atau Jakarta, sudah terlalu banyak saingan, susah cari duit,” jelas Tari. (ctg/bob)

Kamis, 27 Mei 2010

Pekerja Seks Paling Laris di Makassar

SIAPA pekerja seks paling laris di Makassar? Apakah yang paling cantik ataukah yang paling seksi? Suatu hari, saat terlibat dalam riset yang dilaksanakan Universitas Hasanuddin dan Unicef, saya pernah menanyakan itu pada beberapa pria hidung belang yang suka mangkal di Jalan Nusantara, kawasan prostitusi terbesar di Makassar.

Mulanya saya menganggap bahwa yang paling cantik adalah yang paling laris. Mulanya saya menganggap yang paling seksi adalah yang paling dicari. Tapi setelah mewawancarai sejumlah pria-pria tersebut, ternyata yang paling laris bukan yang paling manis, bukan pula yang paling seksi. Yang paling laris justru pekerja seks yang penampilannya biasa saja. Malah, penampilannya tidak istimewa. Beberapa di antaranya, tidak masuk kategori cantik.

Tak percaya? Saya pun demikian awalnya. "Rata-rata semua pria yang ke Jalan Nusantara tidak mau memilih yang paling cantik. Mereka pikir, pasti yang cantik banyak tamu tiap malam. Mereka lebih suka yang biasa-biasa saja, sebab yakin bahwa tamunya tidak banyak," kata seorang teman yang tiga kali seminggu ke tempat tersebut. Masalahnya, masih kata teman, dikarenakan semua pria berpikiran sama, maka pekerja seks yang cantik-cantik justru kekurangan tamu. Sementara yang biasa-biasa saja, justru laris bak kacang goreng.

Ini agak menggelikan. Tapi ini fakta. Saya sendiri tidak terlalu percaya keterangan teman tersebut. Saya lalu melakukan triangulasi, yang dalam dunia penelitian adalah upaya untuk melakukan cek and ricek pada beberapa orang demi mendapatkan data yang lebih valid. Rata-rata para pria mengiyakan keterangan tersebut. Sehingga saya berkesimpulan bahwa di dunia malam seperti ini, nilai-nilai seperti kecantikan justru tidak menjadi satu-satunya variabel dalam menjatuhkan pilihan. Semua orang punya kriteria sendiri-sendiri yang dipengaruhi oleh preferensi kultural masing-masing. Bagaimanapun, istilah cantik bisa diinterpretasikan secara berbeda-beda bergantung pada faktor kebudayaan. Tidak ada definisi tunggal tentang cantik.

Kalaupun ada definisi yang sama tentang cantik, maka itu tetap saja tidak menjadi satu-satunya nilai yang mempengaruhi tindakan. Buktinya, yang cantik-cantik justru nganggur. Sementara yang biasa-biasa saja, bisa panen setiap malam.

Mungkin ini hanyalah kepingan kecil dari mitos-mitos dalam dunia hiburan malam. Selain mitos tentang kecantikan identik dengan banyak pakai, ada pula pria yang terjebak mitos bahwa pekerja seks yang masih muda akan lebih ”garing” sebab dianggap kurang pengalaman. Ini juga mitos. Di kalangan dunia malam, usia kadang tidak penting. Meskipun seorang pekerja seks sudah berusia agak tua, bisa saja jam terbangnya masih rendah. Sementara ada pula yang usianya masih 18 tahun, tapi setelah cek and ricek, jam terbangnya sudah bertahun-tahun.

Dalam dunia remang-remang seperti ini, para pria justru menjadi obyek yang juga gampang dibodohi. Banyak di antara mereka yang tidak mau sedikit menginvestigasi dengan siapa ia berkencan. Ia hanya berpikir, ”Saya datang, saya tembak, dan saya pulang.” Menurut hasil wawancara saya, para pria rata-rata ingin ditemani pekerja seks yang masih muda dan belum terlalu lama berkecimpung di dunia ini. Nah, dengan gampangnya para pengelola rumah hiburan memanipulasi usia karyawannya. ”Tuh, lihat yang sana. Kalau ditanya, umurnya 17 tahun. Tapi sebenarnya, dia udah 30 tahun dan punya tiga anak,” kata seorang teman sambil menunjuk seorang perempuan manis berkulit putih yang mengerling ke arahku, dalam satu kesempatan.

Saya rasa, mitos-mitos di dunia hiburan malam ini sangatlah banyak. Dan tidak mungkin untuk diurai dalam tulisan singkat ini. Mungkin pada kesempatan lain. Thanks.(*)

Selasa, 25 Mei 2010

Tempat Prostitusi Masih Marak di Tanah Abang Jakarta Pusat

Meskipun Pemerintah DKI Jakarta melarang tempat hiburan buka selama Ramadan, di sejumlah tempat di Tanah Abang, Jakarta Pusat, tempat hiburan tetap buka.

"Kami cuma tutup 10 hari pertama bulan puasa," kata Vinny, 18 tahun, pelayan sebuah warung minuman keras di kawasan Bongkaran Tanah Abang, atau sekitar 300 meter dari Stasiun Tanah Abang, Rabu lalu.

Di pinggir rel itu, sedikitnya ada 50 warung penjual minuman keras. Tiap warung dipenuhi perempuan sebagai pelayan dan teman minum bagi pengunjung yang seluruhnya laki-laki.

Menurut Vinny, pelayan yang menemani minum mendapat komisi dari banyaknya minuman yang dibeli tamunya. Tapi uang komisi itu kecil jika dibandingkan dengan menemani tamu kencan.

"Satu kali kencan Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu," katanya. Menurut dia, mereka biasa melakukan kencan di bilik tripleks berukuran 2,5 x 1,5 meter dan berlantai tanah yang tersedia di balik deretan gerbong kereta yang tidak terpakai.

Di dalam bilik itu hanya terdapat dipan beralaskan kasur tipis dan seprai putih dan seember air. Biaya sewa bilik itu Rp 10 ribu per jam. "Saya tahu sekarang bulan puasa, tapi saya kan butuh uang," kata wanita asal Subang yang mengaku tidak pernah sekolah itu.

Menurut Vinny, selama bulan puasa, tempat hiburan di Bongkaran buka dengan mengurangi jam buka. Jika pada hari biasa buka mulai pukul 20.00 sampai 03.00, selama bulan puasa buka mulai pukul 22.00 sampai 01.00.

Sony, 43 tahun, salah seorang pelanggan yang sering datang ke Bongkaran, mengatakan sebelumnya lokalisasi itu merupakan warung semipermanen. "Tapi, setelah dibongkar Tramtib (petugas Ketenteraman dan Ketertiban) satu bulan lalu, kini hanya pakai tenda," ujarnya.

Kepala Kepolisian Sektor Tanah Abang Komisaris Budiyanto menyatakan tempat hiburan malam itu ilegal. "Kami operasi hampir setiap malam," katanya. Namun, setiap kali operasi digelar, pemilik warung beserta anak buahnya selalu dapat meloloskan diri.

Hal itu dibenarkan Vinny. "Terakhir kami digerebek dua hari lalu," ujarnya. Saat itu, kata dia, aparat sudah berada di atas jembatan layang. Mereka melakukan razia pedagang dan wanita malam yang biasa mangkal di sana. "Melihat itu, kami langsung bubar," kata Vinny.

Kawasan bongkaran diapit oleh dua tembok beton di sisi kanan dan kirinya. Pintu masuknya ada dua, yaitu melalui tangga kayu curam dari jembatan layang dan jalan tanah melalui bantaran Kali Banjir Kanal Barat.

Di seberang Bongkaran ada kawasan yang disebut Kayumati, tepatnya di sisi barat Jalan Jati Bunder, Kelurahan Kebon Kacang, seberang Pasar Tanah Abang. Di tempat itu juga ada puluhan warung remang-remang yang menyediakan puluhan pekerja seks komersial.

Menurut Sony, selama bulan puasa, dua tempat hiburan itu masih buka. Sehingga tak sulit bagi pria hidung belang yang ingin mencari pekerja seks komersial. "Saya sering datang ke sini," ujarnya.

Minggu, 23 Mei 2010

Menyusuri Lokalisasi Seks di Jakarta

Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur dari setiap aktivitas manusia, hampir di setiap waktu kita dapat melihat orang melakukan aktivitasnya, tak peduli siang maupun malam. Semua itu dikarenakan berbagai jenis profesi ada dikota ini, dan berbanding lurus dengan jutaan orang yang datang ke jakarta untuk mengadu nasib, meskipun belum tentu mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari apa yang mereka inginkan.

Kehidupan malam dikota jakarta sangatlah mencengangkan,, hampir disetiap bagian dari kota jakarta terdapat tempat prostiusi yang menjadi trade mark masing2 baik dari level atas maupun bawah, seperti yang mungkin kita sering dengar dimulai dari : jakarta utara ada rawa malang (cakung), Royal (rawa bebek), panti pijat, hotel & diskotik (kawasan kota, priuk, pangeran jayakarta & ancol)

jakarta pusat ada lebih banyak berhamburan panti pijat, hotel & diskotik serta kost2an yang juga menawarkan prostitusi (kawasan mangga besar, pasar baru, kemayoran, senen, pasar rumput & harmoni ) bahkan dipinggir jalan hayam wuruk.

jakarta barat juga punya trade mark prostitusi seperti diskotik, hotel & panti pijat ( medika, jelambar, pesing, kedoya) bahkan didaerah pinggir kali pesing dan yang tidak kalah terkenal adalah kalijodo.

jakarta timur juga banyak dari mulai sekitar hotel sentral pramuka, cipinang, jatinegara, prumpung... dan terakhir jakarta selatan yang banyak berhamburan club2 malam seperti didaerah kemang & prostitusi jalanan seperti di mahakan.

Jumat, 21 Mei 2010

HIV/AIDS Mewabah di Tempat Pelacuran

Ancaman penyebaran virus HIV/AIDS di Jakarta mendekati titik nadir. Maraknya lokasi pelacuran menjadi indikasi kian mewabahnya virus mematikan itu. Pasalmya tempat tersebut ditenggarai sebagai salah satu sarang penyebaran penyakit yang belum ditemukan obatnya tersebut.

Hal itu didukung oleh perilaku seks bebas yang marak dilakukan kelompok masayarakat yang memiliki kontribusi terbesar dalam proses penularan penyakit ini. Terelebih dari data Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi DKI, saat ini beberapa lokasi prostitusi telah dinyatakan positif terinveksi virus tersebut. Seperti lokasi prostitusi Kalijodo, Rawa Bebek, Perumpung serta Tanah Abang.

Menurut Rohana Manggala, Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV/AIDS DKI, dari hasil penelitian pihaknya seluruh lokasi prostitusi tersebut telah mewabah virus HIV/AIDS sekitar 10 hingga 15 persen. “Seperti di Kalijodo, 12 persen dari sekitar 3000 pekerja seks yang ada di lokasi tersebut telah positif HIV/AIDS,” ujar Rohana, saat dihubungi melalui telepon, Selasa (19/1). Artinya, tidak kurang dari 360 pekerja seks di lokasi ini telah terjangkit virus tersebut.

Jumlah ini diungkapkan Rohana, belum ditambah dengan lokasi prostitusi di wilayah lainnya dan pekerja seks biasa mangkal di pinggir jalan yang jumlahnya diprediksi mencapai puluhan ribu orang.

Sementara dari data terkahir, lembaga ini mencatat terdapat 2.819 penederita HIV/AIDS di DKI. Angka tersebut menempatkan Jakarta sebagai peringkat ketiga dengan jumlah penderita terbanyak secara nasional di bawah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Meskipun dari segi posisi menurun yang sebelumnya berada di urutan kedua namun angka penderita meningkat 1 orang dalam kurun waktu tiga bulan. Mengingat virus tersebut sampai saat ini belum ditemukan obatnya, sehingga dimungkinkan jumlah penderita akan terus bertambah jika tidak ditanggulangi melalui pencegahan dini.

Secara terpisah John Alu Bwaman, Kabid. Promosi dan Penvegahan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS, menerangkan berbagai langkah telah dilakukan pihaknya dalam upaya pencegahan terhadap penyebaran virus ini. Diantaranya membentuk kelompok kerja di seluruh wilayah kantung prostitusi. Kegiatan ini memberikan penyuluhan terhadap pelaku seks komersil untuk sadar akan penyakit tersebut. Diantaranya sosialisasi penggunaan alat pengaman seperti kondom. Bahkan John mengatakan dalam kelompok kerja ini juga dibagikan kondom gratis untuk mereka.

Bukan hanya melalui seks bebas, namun endemi virus HIV/AIDS tertinggi penularan melalui penggunaan jarum suntik. Sedikitnya 71 persen dari total penderita virus ini diketahui tertular akibat penggunaan Napza jarum suntik. Sedangkan melalui transmisi seks hanya sekitar 23 persen dan sisanya dari perinatal maupun yang tidak diketahui.

Diakui John dalam masalah jarum suntik ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian, Dinas Kesehatan dan Satpol PP. Langkah tersebut ditempuh lantaran sebelumnya kerap terjadi kesalahpahaman antara instansi penegak hukum terkait masalah penggunaan jarum suntik. “Dulu petugas kami kerap berurusan dengan polisi jika tengah membagikan jarum suntik steril karena dianggap mendukung kegiatan pengguna obat terlarang,” ujar John.

Namun masalah tersebut telah teratasi dengan disepakatinya perjanjian antara instansi terkait. Diantaranya dengan mengizinkan pembagian jarum suntik dengan menyertakan surat keterangan. “Kami mencoba memisahkan antara pencegahan dengan masalah tindak criminal penggunaan narkobanya,” tandas John.

Menanggapi tinggi jumlah penderita HIV/AIDS, Baby Jim Aditya, Direktur Club Partisan Kemanusiaan, mengatakan penanganan masalah penyebaran virus ini hanya dapat dilakukan melalui bimbingan perubahan perilaku. Selain itu optimalisasi sosialisasi harus dilakukan bukan hanya di tataran pekerja seks melainkan secara keseluruhan hingga ibu rumah tangga.

Lebih lanjut dikatakan Baby, belum optimalnya sarana dan prasarana pelayanan juga yang disediakan untuk penanganan penyakit ini juga dituding sebagai salah satu penyebab menjalarnya virus ini. Terutama bagi masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Di Jakarta Utara tercatat sebayak 90 warga mengidap virus HIV/AIDS. Berbagai factor disebabkan menjangkitnya virus tersebut seperti pemakaian narkoba dan hubungan seks bebas.

“Jumlah itu dari bulan Januari sampai Juni 2009. Kalau yang Juni sampai sekarang belum ada datanya,” ujar Kasudin Kesehatan Jakarta Utara, Dr Kurnianto, kepada Pos Kota, kemarin. Namun ketika ditanya tentang jumlah para WTS di Jakarta Utara yang mengidap penyakit HIV, tidak mau menjawab terus terang.

”Saya nggak bisa memberikan penjelasan secara rinci, apalagi nama dan alamatnya. Karena termasuk yang harus dirahasiakan,” ujarnya.

sumber : poskota.co.id

Rabu, 19 Mei 2010

Gang Sadar : Pusat Prostitusi Purwokerto

Purwokerto bukan seperti kota besar seperti semarang, surabaya ataupun kota besar lainya, tapi purwokerto punya kesamaan dengan kota tersebut yaitu daerah PROSTITUSI yang terorganisir dan terpusat dan hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat purwokerto kalau di semarang ada Sarkem (pasar kembang) di surabaya ada Doly maka di purwokerto tak kalah saing ada GANG SADAR.

Letaknya yang berada di kawasan pariwisata Baturaden yang behawa dingin seperti puncak bandung membuat Gang Sadar cepat dikenal. yang pasti kalau kamu berkunjung ke gang sadar kamu akan di sajikan wanita-wanita seksi mengumbar syahwat.

Senin, 17 Mei 2010

Lokalisasi Desa Pakis, Kecamatan Widang, Tuban

Lokalisasi yang terletak di Desa Pakis, Kecamatan Widang, Tuban menjadi sasaran razia yang dilakukan petugas Satpol PP Pemkab Tuban, Rabu (7/10) siang. 15 orang pekerja seks komersil (PSK) dan seorang lelaki hidung belang digelandang petugas lantaran tertangkap basah saat berbuat mesum di salah satu kamar lokalisasi yang berada di sepanjang Jl Pantura Tuban - Babat tersebut.

Dalam razia tersebut, sempat ada wanita yang mengunci diri di dalam kamar dan menolak membuka pintu kamarnya saat tahu ada petugas. Selang beberapa saat setelah pintu didobrak, wanita tuna susila tersebut langsung menangis histeris menolak dibawa oleh petugas. Selain itu, juga terjadi kejar-kejaran antara petugas dengan PSK yang berusaha kabur melalui pintu belakang rumah. Selain itu, juga ada PSK yang beralasan ke kamar mandi tapi berbelok ke belakang wisma untuk berusaha kabur. Untungnya, mereka semua berhasil diamankan petugas gabungan Satpol PP, TNI dan Polri ini.

Dari operasi ini, petugas berhasil mengamankan 15 orang PSK dan satu orang laki-laki hidung belang yang tertangkap basah saat sedang berasyik masyuk bersama PSK di salah satu kamar. “Ada 15 PSK yang kita amankan, untuk selanjutnya dilakukan pendataan dan diberi pembinaan,” kata Heri Muharwanto, Kasatpol PP Pemkab Tuban. “Selain itu, juga ada seorang lelaki yang terpaksa ikut kita amankan lantaran ketahuan sedang behubungan di dalam kamar dengan PSK,” tambahnya.

Sabtu, 15 Mei 2010

Ketika Prostitusi Mulai Di Kelola Dan Di Bisniskan Oleh Pemerintah di Batam

Tarif para pekerja seks komersial (PSK) bisa jadi akan segera naik. Soalnya, DPRD Batam sudah memikirkan untuk mengenakan pajak kepada mereka.

Langkah ini untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Sasarannya tentu saja ribuan PSK yang terdata di kota ini terutama di panti-panti rehabilitasi yang pada kenyataannya berubah menjadi lokalisasi.

Ide pajak PSK ini disampaikan anggota Komisi I DPRD Riki Syolihin. Ia meminta Pemko Batam segera menyampaikan ranperda terkait pengenaan pajak kepada PSK di Sintai sebesar 10 persen dari tarif sekali short time atau kencan singkat.

“Kami melihat ini potensi besar. Alasan kami mengajukan ini karena lokasi itu sudah diberikan Pemko Batam secara resmi. Kami berpikir lokasi yang sudah resmi patut dipungut pajaknya. Agar ini tidak menyalahi aturan lebih baik Pemko mengusulkan ranperdanya untuk kami bahas. Memang usulan ini akan pro dan kontra, tapi apabila dikelola dengan baik tentu akan bisa meningkatkan PAD untuk pembangunan Batam,” jelasnya, Jumat (12/2).

Ide itu juga berawal dari kunjungan kerja Komisi I ke Sintai, beberapa waktu lalu. Di panti rehabilitasi yang terletak di Teluk Pandan, Tanjung Uncang ini ada sebanyak 40 bar. Jumlah PSK-nya sekitar 1.200 orang.

Bahkan Riki sudah menghitung potensi pajak dari PSK ini. Menurutnya, jika 1.200 PSK itu dikenakan pajak sebesar 10 persen saja, maka Pemko akan dapat Rp 15 ribu dari Rp 150 ribu tarif sekali short time. Jika selama setahun dikenakan pajak, maka potensi PAD dari lokasi Sintai sebesar Rp 6,4 miliar.
Sementara itu Ketua Komisi I Basri Harun menambahkan, setelah melihat secara langsung di Sintai, ternyata lokasi itu baru terisi 40 persen. Dengan demikian lahan tersisa 60 persen.

“Kami berharap semua tempat PSK disatukan di sana agar bisa membinanya. Begitu juga dengan rencana mengenakan retribusi bisa dilakukan apabila sudah ada Perdanya,” tambahnya.

Ide lama

Ide mengenakan pajak terhadap PSK bukan barang baru. Sebelumnya mantan Kepala Dinas Sosial dan Pemakaman, Syuzairi pernah menyampaikan keinginan tersebut. Namun belum sempat terealisasi, ia sudah digantikan oleh M Syahir.

“Di Sintai banyak bar yang sama dengan karaoke di Jodoh dan Nagoya. Tapi tidak dipungut pajak. Padahal potensinya cukup besar dan mereka mau dikenakan pasak asalkan mereka dilegalkan,” ungkap Syuzairi saat itu.

Syuzairi menyebut ada beberapa persoalan dari segi aspek legalitas dan aspek payung hukum. Untuk itu perlu dilakukan kajian secara akademis termasuk studi banding ke daerah lain. Bila mengacu kepada penjualan miras di Sintai yang sangat banyak, namun hingga kini tidak bisa dipungut pajaknya karena tidak diberikan izin. “Kami berharap pemko bisa memberikan izin tempat hiburan di sana, agar pengusaha bar bisa mengurus izin. Saya heran penjualan miras di Sintai hampir sama harganya dengan bar di Jodoh dan Nagoya, tapi mereka tidak dipungut pajak karena tidak diperbolehkan mengurus izin.

Jika dilegalkan, ada dua potensi yang bisa kita pungut yakni, aspek perizinan dan pajak miras,” papar Syuzairi.

Bahkan ia menyebut terlalu banyak yang munafik, sehingga pengurusan agar lokasi itu legal mengalami kesulitan. Berbeda dengan Malaysia dan Singapura yang bisa mengelola perjudian dan tempat lainnya dengan baik sehingga menambah pendapatan negara tersebut.

“Kita di sini bilang tidak boleh, tapi mengharapkan penjudi dari negara sebarang datang berbelanja mau. Inilah herannya. Karena tidak boleh, oknum yang jadi kaya karena mendapat setoran. Saran saya lebih baik dilegalkan agar uang pajak dari sana bisa masuk ke kas daerah. Kami berharap lokasi itu bisa digali potensi PAD-nya, dengan catatan pemerintah memberi perhatian,” sebut Syuzairi yang saat ini menjabat staf ahli wali kota. tribunbatam

Kamis, 13 Mei 2010

Kawasan Lokalisasi PSK Tangkis Gempol Pasuruan

Petugas terus memberantas penyakit masyarakat (pekat). Rabu malam (27/5), 50 petugas gabungan Satpol PP dibantu jajaran Polres Kabupaten Pasuruan dan Sub Denpom menggelar Operasi Pekat. Saat operasi ini, petugas kembali membakar Tangkis, Desa Gempol, Kecamatan Gempol yang merupakan kawasan PSK.

Sekitar pukul 21.30 WIB, petugas Satpol PP membagi timnya menjadi dua regu. Ada yang menyisir dengan sistem tertutup (petugas berpakaian preman). Selanjutnya obrakan dilakukan dengan sistem terbuka.

Awalnya, petugas menyisir kawasan Tangkis. “Malam itu suasana Tangkis ramai. Kami sudah memperhitungkan banyak hal. Sehingga, kita juga mengajak jajaran terkait melakukan operasi ini bersama-sama,” ujar Kepala Satpol PP Kabupaten Pasuruan, Budi Prasetya, kemarin (28/5).

Suasana Tangkis sendiri malam itu memang terasa hidup. Lampu menyala di tenda remang-remang dan warung-warung didatangi banyak tamu. Namun, begitu Satpol PP melakukan obrakan, warung-warung yang banyak menyediakan minuman keras (miras) itu tutup dengan cepat.

Operasi ini sempat dikabarkan bocor lebih dulu. Sehingga, petugas berpakaian krem ini berusaha mengobrak-abrik tenda remang-remang yang berada di bibir Kali Porong itu. Di tempat ini, petugas berhasil menggelandang dua PSK, Arum, 29, dan Ika, 25. Keduanya asal Kejapanan, Gempol.

Selain mengamankan PSK, petugas juga mengobrak-abrik tenda yang disinyalir menjadi tempat maksiat jalanan. Tenda-tenda yang terbuat dari plastik beralaskan tikar ini dirobohkan dan dibakar. Kemudian, tiang bambunya dibuang ke sungai Porong.

Petugas meneruskan operasinya di Carat, Gempol. Kebetulan, Desa Carat bersebelahan dengan kawasan Tangkis. Petugas mengamankan empat PSK di tempat ini. Masing-masing Yatini, Astina, Lama dan Mujiati.

“Kami sebenarnya juga sekalian memberantas miras yang ada di warung-warung mereka. Tapi lain waktu akan kami berantas juga,” tegas Budi.

Petugas lain juga menyisir ke Pandaan. Kawasan Jetak, Desa Karangjati ynag disinyalir sebagai mangkal para PSK jalanan disisir juga. Terbukti, dua PSK yaitu Endang dan Ririn ikut disidang tindak pidana ringan (tipiring) di PN Bangil, kemarin.

Petugas sempat geram bercampur geli saat mengobrak kawasan Pasar Kambing, Bangil. Di kawasan ini, petugas menangkap lelaki hidung belang yang sedang indehoi dengan teman wanitanya. Santo, 55, dan Sati, 35 dijumpai masih telanjang ketika petugas Satpol PP mengobraknya.

“Bapak ini sudah tua, masih ndablek begini,” ujar salah satu petugas. Santo yang mengaku berasal dari Kabupaten Probolinggo ini hanya senyum-senyum. “Saya ini mau pulang ke Probolinggo. Tapi, jaraknya jauh. Makanya saya mampir ke sini dulu,” ujar Santo saat itu.(jawapos)

Selasa, 11 Mei 2010

Cara Menikmati Jajanan Seks di Kota Medan

Berdasarkan cerita teman saya yang berasal dari Surabaya, Bandung, Solo, Jogya, dan Jakarta di mana kota-kota ini sangat terkenal dengan dunia esek-eseknya alias jajanan sex, kemudian dibandingkan dengan cerita beberapa teman di Kota Medan, menghasilkan kesimpulan bahwa Kota Medan sangat professional di dalam urusan sahwat jajanan sex ini. Ini juga berdasarkan beberapa kunjungan reportase saya di beberapa tempat rekreasi dan seputar kota medan.

Cerita ini sebenarnya berawal dari kantor saya yang berdekatan dengan kawasan ‘lampu merah’ jajanan sex di Jalan Iskandar Muda antara Mall Ramayana sampai Mall Medan Plaza. Bagi anda seorang wanita jangan coba mangkal, misalnya menunggu seseorang, di kawasan ini di malam hari karena bisa saja para lelaki hidung belang menganggap anda seorang pelacur yang menunggu tamu. Kawasan ini memang terkenal di Kota Medan para penjaja sex dengan cara freelance, maksudnya para wanita melakukan aksinya tanpa germo atau sejenisnya, mereka datang entah dari mana silih berganti, dan mereka juga umunya tidak saling mengenal, istilah saya begitu mudah, begitu praktis, begitu nyata, karena seorang wanita yang ingin melakukan transaksi sexual cukup modal keberanian saja mangkal di seputaran jalan ini, tidak perlu malu-malu, toh sudah banyak juga yang lagi mejeng di bawah terang benderang sinaran lampu jalanan dan front pertokoan.

Btw, sebelumnya perlu saya sampaikan, bahwa saya sangat tidak setuju menggunakan istilah PSK (pekerja sex komersial) bagi para perempuan penjaja sex ini, konotasi perempuan PSK bagi masyarakat selama ini, di mana di berbagai tulisan media juga menggunakan istilah PSK ini, seolah-olah kita atau masyarakat secara latah atau tidak sengaja menganggap ini sebagai profesi legal. Jika para pelacur ini kita sebut Perempuan Pekerja Sex Komersial, berarti isteri-isteri di rumah tangga atau isteri resmi karena pernikahan bisa berkonotasi mereka jjuga pekerja sex tapi non komersial, non komersial bisa karena hanya melayani suaminya saja atau juga plus melayani selingkuhannya. Jadi saya lebih sepakat memakai istilah ‘pelacur’, ‘penjaja sex’ atau prostitusi atau bisa lebih kasarnya ‘penjual daging mentah’.

Penghalusan penyebutan ‘pelacur’, penjaja sex, atau prostitusi menjadi atau di sebut PSK ini juga mengindikasikan bahwa masyarakat kita terutama pihak pemerintah selama ini sangat permissive dan apatis menanggapi persoalan amoralitas ini.

Hampir semua hotel di medan kecuali beberapa yang memberi perhatian khusus, terutama hotel melati,bintang 1 dan 2 tidak steril dari para penjaja sex ini, yang berbeda Cuma caranya saja ketika para duren bergincu ini datang mengunjungi tamu di hotel. Ada melalui penawaran dari bell boy hotel, ada juga di waktu telat malam wanita penjaja sex ini mengetuk pintu kamar hotel, sepertinya mereka tahu atau dapat informasi anda tamu hotel yang datang tanpa pasangan.

Jika anda seorang lelaki hidung belang yang doyan jajanan sex berkelas, anda mungkin malu dan risih hunting wanita penjaja sex freelance di jalan iskandar muda itu, maka alternatifnya anda bisa memilih di tempat-tempat diskotik dan karaoke. Nyaris semua di kedua tempat tersebut jika anda datang berkunjung tanpa pasangan wanita, maka serta merta seseorang akan datang menawari anda, “bang mau cewek gak ?”.

Wanita-wanita penjaja sex ini akan menemani anda selama menikmati diskotik dan karaoke selama 2 hingga 3 jam, kalau cocok harga bisa lanjut sk (sewa kamar). Malah beberapa tempat karaoke berfasilitas lengkap dan berkelas, eksekusi kepada teman wanita sewaan tersebut, sekali lagi kalau cocok harga, bisa dilakukan di dalam kamar tempat karaoke tersebut.

Kita bergeser ke tempat rekreasi di beberapa pinggiran kota medan, ditempat rekreasi ini menyediakan ‘rumkit’ alias ‘rumah kitik-kitik’, tempatnya bervariasi, ada yang seadanya kamar atau ruang yang terbuat dari beberapa spanduk bekas tetapi cukup aman dari jangkauan public ketika melakukan indohoy atau asik-masuk esek-gesek dengan pasangan anda. Ada juga dalam bentuk kamar permanen, rumkit ini tarifnya antara 5 ribu sampai 20ribu, karena tempat ini hanya buka di siang hari jadi para pengunjung harus datang dengan pasangan masing-masing.

Bergeser lagi sedikit ke luar Kota Medan menuju berastagi sebelum tempat lokasi jambore nasional, akan ditemukan tempat prostitusi paling terkenal dan kolosal, nyaris semua orang medan atau sumut mengenalnya yaitu kelurahan bandar baru yang masuk wilayah kabupaten karo kecamatan brastagi.

Ditempat ini baik siang dan malam anda tidak menemukan para wanita penjaja sex itu, Bandar baru ini lokasinya menyerupai puncak cisarua bogor termasuk cuacanya. Bandar baru ini terdapat beberapa villa terutama ratusan hotel-hotel melati. Tinggal pilih sesuai isi kocek masing-masing, penginapan mana yang dituju, setelah beberapa saat di dalam penginapan dan anda tamu tanpa pasangan wanita seseorang ‘anjelo’ (antar jemput lonte) akan datang menawari wanita penjaja sex. Negosiasi bisa dilakukan dengan para penjaja sex itu yang diantar oleh anjelo, jika tidak selera anjelo siap mendatangkan yang lain sesuai pesanan macam mana rupanya. Berapa tarif para wanita penjaja sex ini diluar tip buat anjelonya, hanya dikisaran 50ribu – 200ribu untuk sekali eksekusi coz coy.

Ini bukan rumor, isu dan gossip, untuk mengetahui informasi seperti yang saya tulis di atas, anda tidak perlu capai-capai datang ke lokasi, seorang tukang betor (becak motor atau becak mesin) yang sudah lama di kota medan mengetahui semua informasi di atas.

Maraknya prostitusi di kota medan ini berkorelasi positif atau pada fakta lain membuktikan yaitu tingginya pengidap penyakit dampak transaksi sexual virus HIV Aids di kota medan dan sumut. Dalam kurun waktu empat bulan dari April sampai Juli 2009, ditemukan sebanyak 291 kasus baru penderita Human Immunodefisiency Virus/Acquired Immuno Defesiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kota Medan.

Kota Medan menjadi daerah terbanyak memiliki penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara. Dari 1994 hingga 2009, tercatat 1810 penderita yang tertular melalui hubungan seks bebas dan pemakaian jarum suntik bergantian.

“Jumlah tersebut telah disurvei oleh tim dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut, sedangkan yang tersembunyi diperkirakan mencapai 11.000 orang,” kata kepala seksi Pencegahan Penyakit Menular Langsung Dinkes Sumut, Sukarni,

Dari temuan Dinkes Sumut tersebut, 820 orang pengidap HIV positif dan 990 orang terjangkit AIDS, jumlah ini tersebar di 21 kabupaten/kota dan kota Medan menduduki rangking teratas menyusul Deli Serdang. Jumlah penderita HIV/AIDS di kota Medan 1.242 kasus dengan perincian HIV 604 kasus dan AIDS 638 kasus, Deli Serdang 170 kasus (84 HIV dan 86 AIDS).

Disebutkan, mayoritas usia pengidap HIV/AIDS rentan pada usia 20-40 tahun sebanyak 1..005 dengan faktor risiko penularan didominasi hubungan seks yang beresiko dan pemakaian narkoba dari jenis suntikan. Jumlah ini sesuai data Dinkes Sumut hingga Agustus 2009 dan dari jumlah tersebut penderita mayoritas laki-laki sebanyak 1.446 orang, perempuan 346 orang.

Secara nasional pelanggan wanita pekerja seks (WPS) dinilai masih mendominasi golongan risiko terkena Human Immunodeficiency Virus/Aquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Diperkirakan jumlahnya 3,14 juta orang di Indonesia.

Demikian Kadis Kesehatan Sumut dr. Candra Syafei, SpOG melalui Manager Global Fund Dinas Kesehatan Sumut Andi Ilham Lubis kepada di ruang kerjanya, Rabu (26/8). Malah sebenarnya, kata Andi, tidak saja pelanggan WPS yang berisiko tapi juga pasangan pelanggan tersebut. Dampak yang ditimbulkan selanjutnya adalah sekitar 1,8 juta pasangan pelanggan WPS juga ikut tertular HIV/AIDS.

Tingginya angka estimasi ini didasarkan pada besarnya peningkatan kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun. Terhitung sejak pertama kali ditemukan di Indonesia tahun 1987 hingga 2009, kasus HIV/AIDS telah mengalami peningkatan hingga 5.000 kali lipat. Sebagaimana dilaporkan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM&PL) Departemen Kesehatan RI per 31 Maret 2009, pada tahun 1987 ditemukan 5 kasus. Jumlah ini meningkat 5.000 kali lipat menjadi 23.632 kasus di tahun 2009. (sumber diolah copas dari pemberitaan analisa dan waspada online).

Nyata, seribu cara menikmati jajanan sex, begitu mudah begitu praktis, semudah laptop anda pun terserang virus mematikan jika bermain-main dengan transaksi jajanan sex.

Minggu, 09 Mei 2010

Bisnis Layanan Seks Hotel di Malang

Sebenarnya sebelum tahun 2000, bisnis penyaji layanan esek-esek di Malang Raya di luar komplek (sebutan lokalisasi) sudah menjamur. Bahkan, usaha ini sudah dikelola secara profesional. Artinya, germo alias pemilik usaha ini tidak perlu menampung wanita piaraanya di markas mereka, orang awam menyebut bordil. Namun cukup memegang alamat dan telepon serta foto wanita penghiburnya.

Pihak tamu cukup pesan pada sang germo, dan kemudian kiriman pun diantar ke hotel yang dituju. Tarif layanan pun juga sudah berkelas halnya yang pernah ada di Jalan Jakarta, Jalan Trunojoyo, Tlogomas maupun di Jalan Arjuno, Batu. Sementara untuk tarif dibawahnya, bisa mendapat wanita-wanita yang biasa mangkal di Hotel Garuda maupun Hotel Jakarta. Pengelolahnya pun tak harus sembunyi-sembunyi, karena rumah bisnis tersebut begitu populer sampai-sampai oknum-onum polisi tak sungkan setiap harinya tongkrongan di tempat ini.

Pengelolaan bisnis tersebut, sekarang ini tak beda jauh dengan saat itu. Yang membedakan, sekarang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kamis malam lalu sekitar pukul 20:30, Malang Post sengaja bertandang ke sebuah hotel kelas melati di kawasan Blimbing. Seorang petugas security setempat, mengungkapkan beberapa fakta tamu-tamu hotel yang membutuhkan layanan prostitusi.

Lokasi hotel tempat kerja satpam itu, lokasinya sedikit tersembunyi dari jalan raya. Walaupun begitu untuk mencari hotel ini tak begitu susah. Bangunan hotelnya cukup bagus, dilengkapi kantor security di pojok kanan berisi seroang satpam untuk setiap shiftnya.

” Di hotel ini kalau ada tamu butuh kodew (wanita), bisa langsung minta ke operator. Nanti mereka (operator) akan mencarikan kodew, dengan kondisi seperti pesanan. Di hotel ini memang melarang mereka (wanita penghibur) mangkal, karena takut digerebek sedang gencar-gencarnya,’’jelas satpam yang sudah bekerja di hotel itu sejak 1999 ini.

Setelah ada pesanan, operator akan segera mengirim wanita sesuai pesanan. Jika tidak sesuai dengan harapan, wanita boleh dikembalikan dengan kompensasi ongkos taksi sekitar Rp 50.000. Jika ada stok, pemesan bisa mendapatkan pengganti rentang 15 menit. Namun jika stock lagi kosong, tamu akan dibiarkan menganggur hingga ada stock berikutnya.

Karena itulah satpam berinisial H ini menyarankan, agar tidak nganggur tamu bisa dibawakan lebih dari satu wanita. Sehingga bisa memilih, dan wanaita yang tidak dikehendaki bisa keluar kamar dengan tetap membeli imbalan ongkos taksi.

Namun belakangan ini setelah gencarnya grebekan, praktek jasa esek-esek untuk tamu hotel mengalami perubahan jam layanan. ”Sekarang pesannnya harus di bawah jam 8 malam. Kalau terlalu malam, jelas rawan belum lagi wanitanya juga akan pulang kemalaman,’’beber H.

Ditengah percakapan, H lantas menunjuk seorang wanita cantik berusia sekitar 20 tahun, yang baru keluar dari kamar hotel kelas delux. Menurut H, cewek itu adalah free lance di hotelnya yang paling sering dipesan dengan tarif kencan Rp 500.000. Dengan mengendarai sepeda motor Mio putih, cewek itu mengenakan baju sopan walaupun tetap menunjukkan keseksian tubuhnya.’’Untuk yang cewek satu ini, saya nggak pegang nomor hp nya,” ujar H seolah menyesal.

Pasokan cewek di hotel tersebut, bertarif Rp 300.000 hingga Rp 500.000. Tergantung dari bagus tidaknya dari yang dipesan. Indikator itu bisa dari tubuh, wajah, ataupun layanan mereka. Untuk harga Rp 500.000 ke atas, H lantas menyebut beberapa hotel berkelas di Malang, sebagai tempat cewek seharga itu melayani tamu. ” Mau cari yang seharga itu, ya bisa cari di hotel-hotel tersebut tinggal pesan pada satpamnya,’’ungkap H.

Tarif yang dipatok, memang harga untuk short time dengan waktu antara 2 hingga 3 jam. Tapi jika pelanggan ingin lebih lama, harga bisa langsung dinego dengan cewek penghiburnya. Sementara untuk harga sewa kamar di hotel tempat H bekerja, tergolong murah. Untuk kamar biasa dengan fasilitas bath tub dipatok Rp 100.000 per enam jam. Sedangkan kamar deluxe, dengan fasilitas lebih langkap seharga Rp 120.000. Lokasi kamarnya dibangun dengan bentuk motel. Yaitu ada garasi dibawah, di atasnya baru kamar. Tujuannya, mobil tamu dan penumpang cewek bisa langsung ke garasi, dan tamu masuk kamar lewat jalan tembus di garasi.

Sejak sering ada razia, menurutnya, banyak PSK yang pilih jadi free lance. ‘’ Tapi ada kebaikan jika menggunakan Germo, karena pesanan yang diminta tamu kwalitasnya lebih terjamin,’’papar satpam yang punya tinggi badan 170 Cm ini. (*) (mp-1/malangpost)

Jumat, 07 Mei 2010

16 Lokalisasi PSK atau Tempat Prostitusi di Bekasi

Memang yang namanya bisnis seks nggak habis-habisnya. Buktinya jumlah kawasan lokalisasi di Kabupaten Bekasi cenderung meningkat. Tercatat, 16 lokalisasi baru secara ilegal muncul setelah pemerintah daerah itu menutup lokalisasi terbesar Malvinas, tahun 2004.

Bahkan Program Manager Mitra Sehati Bekasi Novan Andri mengatakan pertambahan lokalisasi terjadi hanya dalam kurun waktu enam bulan. Hal itu diikuti dengan peningkatan jumlah pekerja seks komersial (PSK). Saat ini terdapat sekitar 4 ribu PSK di wilayah itu.

Ke-16 lokalisasi baru itu tersebar di Kecamatan Cibitung, Cikarang Barat, Cikarang Utara, dan Cikarang Pusat. Di antaranya, eks lokalisasi Malvinas, lokalisasi Tanah Merah, Tegal Danas, Pasir Sedot, Pasir Kunci, Pasar Seng, Tenda Biru, Pulo Nyamuk, Kedaung.

Biasanya lokalisasi muncul diawali dengan membuka cafe minuman, lalu menyediakan jasa karaoke, kemudian menjadi cafe remang-remang yang menyediakan pelayanan eksta wanita penghibur.

Rabu, 05 Mei 2010

Lokalisasi Prostitusi Limusnunggal Cileungsi Bogor

* Terdapat Lima blok yang dijadikan tempat prostitusi
* Jumlah bangunan seluruhnya mencapai 250 unit
* Sudah pernah ditertibkan tahun lalu, tapi muncul lagi
* Para PSK kebanyakan pendatang
* Berdiri di atas tanah adat, akan didirikan sekolah
* Lokasi di Jalan Narogong Raya, Cileungsi, Kabupaten Bogor

Senin, 03 Mei 2010

Salon Prostitusi di Jalan Negara Medan

Diduga dijadikan tempat prostitusi, dua salon masing-masing salon RS dan salon EJ di kawasan jalan negara Medan, Rabu (7/10), digrebek Reskrim Poltabes Medan. Dalam penggerebekan tersebut, petugas mengamankan belasan wanita karyawan salon.

Kasat reskrim Poltabes Medan Komisaris Polisi (Kompol) Gidion Arif Setiyawan, membenarkan penggerebekan tersebut. Dijelaskannya, awal mula penggerebekan, saat petugas mendapat laporan dari masyarakat sekitarnya yang selama ini sudah resah bahwa kedua salon tersebut telah dijadikan tempat maksiat alias tempat prostitusi.

Berdasarkan pengaduan masyarakat tersebut, petugas langsung turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pemeriksaan. Setibanya di lokasi, petugas melakukan pengintaian.

Karena curiga melihat pintu salon tersebut yang selalu tertutup dan melihat pakaian karyawan wanita salon yang bisa dibilang terbuka, maka petugas langsung melakukan penggerebekan. Dalam penggerebekan, petugas tidak menemukan sepasang insan yang sedang berhubungan.

Petugas hanya mengamankan belasan wanita karyawan kedua salon tersebut dan memboyongnya ke komando untuk mendapatkan pemeriksaan atau dimintai keterangan. Sedangkan pemilik kedua salon, yang belum diketahui identitasnya, masih menjalani pemeriksaan intesif. (Sumber: WASPADA ONLINE)

Sabtu, 01 Mei 2010

Pelanggan Pelacur di Cirebon 14 Ribu Orang

Jumlah pelacur di Kabupaten Cirebon meningkat. Bahkan jumlah pelanggannya pun sudah menembus 14 ribu orang.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bagian Kesra Kabupaten Cirebon, Deni Agustin. Menurut Deni, saat ini jumlah pekerja seks komersial (pelacur) di Kabupaten Cirebon yang tercatat sebanyak 3.000 orang.

"Dari jumlah tersebut ternyata jumlah pelanggannya sudah mencapai 14 ribu orang," katanya. Ini berarti, setiap harinya selalu terjadi transaksi seksual di tempat-tempat lokalisasi maupun lokasi lainnya. Baik jumlah pelacur maupun pelanggannya yang tidak tercatat menurut Deni bisa saja lebih.

Kondisi seperti ini, lanjut Deni, berpotensi besar terhadap penularan HIV/AIDS di kalangan pelacur maupun pelanggannya.

Saat ini penderita HIV/AIDS di Kabupaten Cirebon yang tercatat sudah mencapai 493 orang. "Tetapi tidak menutup kemungkinan jumlah yang tidak terdata justru lebih besar," katanya.

Karena itu, lanjut Deni, pihaknya melalui instansi terkait terus berupaya untuk memberikan pemahaman kepada pelaku seks bebas mengenai bahaya penularan HIV/AIDS melalui hubungan seks bebas.

"Walaupun sebenarnya penularan HIV/AIDS bisa juga melalui penggunaan jarum suntik secara bersama-sama," katanya.

Sumber - Tempointeraktif